Tuesday, March 22, 2011

My Anagrams

#1
I stay for u NOW, though I know I've never WON.

#2
Why are you hiding your SMILE? I miss it like a hot day miss the ice LIMES.

#3
I can be happy just for watching your SMILE, though I know I have to run for MILES.

#4
There's a love that can't be READ, it just can be felt if you DARE.

#5
I lost my magic WAND, seconds after I looked up for the DAWN.

#6
Do you have something to KEEP? The little secret that I can PEEK?

#7
I could be never forget your NAME, because it is something I have to MEAN.

#8
How can I be alone enjoy my fried MEAT? We have to share it as a TEAM. *yang ini bikin laper :p*

Friday, March 11, 2011

Gerimis Senja *)

Hujan yang ramai begitu sabar.
Diberi kesempatan anak-anaknya
merasai wangi bumi...

Perciknya bagai gelak tawa.
Berderai-derai mesra.
Ah, bahkan senja mau mengalah.
Demi riang bening yang tertumpah.

Lihatlah ke jingga mata senja.
Bola-bola pelangi itu tumbuh saja berwarna warna.
Hadiah untuk mereka.

Ah, ini sudah gelap, Kawan.
Senja sudah pulang, dilipat malam.
Tapi kebahagiaan itu, membekas dalam.
Sudah, terhapuslah kelam.

Maka, izinkanlah tangan tangan malam
merengkuhmu perlahan.
Dalam munajat yang ia panjatkan.
Semoga, bahagia tak kunjung padam.

*) jahitan kata bersama kakak seperguruan, Mba Ratih
~ I always love ur words mba :)

Thursday, March 10, 2011

Percakapan Malam Bersama Mba Ajeng

-ajeng-
Aku membacamu halaman demi halaman,
menegakkan alif, ba, ta hingga ya
sedari petang dan berlanjut saat subuh tiba.

-rifi-
Jeda. Makna. Kusesap lamatlamat.
Pada cinta-Nya yang senantiasa beralamat,
pada hati yang mengingat. Adakah itu, aku?

-ajeng-
Tergugu. Pada satu rindu.
Saat kepala tersungkur, bersujud tepekur.
Tangan tengadah, melangitkan doa agar diijabah. Itu, kamu.

-rifi-
Hati. Bagaimana ia?
Ada doadoa melayang tenang.
Berharap sampai pada tangan-Nya yang merentang.

Wednesday, February 23, 2011

Selimut Hangat

Dekapanmu menjadi asa
Di malamku
Apalah kehangatan?
Bila tak jua kau bagikan
Pada ia yang kedinginan

Maka aku seperti tak peduli
Pada rupamu yang kusut
Atau senyummu yang keriput
Karena sudah cukup kau buktikan
Setiamu...

Lalu apalagi yang kubutuhkan?
Karenamu aku memutuskan
Meninggalkan gigil sendiri di sudut
Bersama lembab yang susut

Maka terima kasih
Atas segala cinta
Sebab takkan ada puisi ini
Tanpa pelukmu, malam ini...

Wednesday, February 16, 2011

Untuk Para Sahabat

"There's no key to happiness, the door is always open."
- via Rahmadiyanti


: Sahabat

Kapankah aku sesetia Harun pada Musa?
Bermesra di jalan-Nya
Saling menguatkan dalam doa
dan cahaya...

Tetiba aku juga teringat akan Abdullah dan Mush'ab *)
Dipersaudarakan mereka oleh Nabi Cinta
Meski rupa jelas berbeda, tapi hati mereka satu makna
Dalam dekap-Nya...

Atau kapankah aku setulus Abu Dzar Al Ghifari
Saat meminta maaf padamu,
Seperti permohonan maafnya pada Bilal bin Rabah
Saat hati tak sengaja menyakiti?

Maka lihatlah Salman Al Farisi,
Ia mencari sahabat untuk diberi, bukan memberi
Mulialah ia saat merelakan Abud Darda
Menikahi wanita yang ia pinang namun menolaknya

Takkan pernah bisa...aku selayak Abu Bakar
Pendamping sejati Sang Rasul kita
"Jangan sedih, hai Abu Bakar. Alloh bersama kita."
Maka sirnalah segala duka luka

Ah, kita mungkin takkan pernah bisa sehebat mereka
Tapi mari, Sahabat, mari...
Meneladani mereka, sedapat yang kita bisa

Dalam ukhuwah yang paling sederhana
Saling mengingat dalam pagi petang rabithah kita...
Atau berbagi dalam sahaja senyuman kita :)

Maka kutemukan pintu kebahagiaan yang terbuka itu
Saat mengingat indahnya kehangatan bersamamu...




~ Untuk Para Sahabat di manapun berada
Semoga kelak kita berkumpul bersama di jannah-Nya
Allohumma aamiin...


*) Mush'ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum

Thursday, February 10, 2011

For The Amazing Brother(s)

: Kak Sopi Ahyar

Kau memintaku menulis sebuah surat untukmu
Lalu sedetik aku menggumam
Apa yang bisa kutulis untukmu, Kakak?

Ah, aku hanya merindui candamu
Juga kecemburuanku dulu padamu
Masih ingatkah, surat yang dulu sempat kukirimkan padamu?

Itu saat aku kelas satu sekolah menengah
Saat aku sedang sebal-sebalnya pada mamah
Karena aku di nomor duakan, setelah kakak-kakak yang entah

Bagaimana tidak?
Di rumah seringkali nama-nama kalian disebutnya
Membuat aku bertanya-tanya :
Siapakah mereka yang sudah merebut waktu bunda?

Maka tergeraklah pena itu
Bicaralah kertas bergaris itu
Dan mengenalah kita semua...

Then I know, why my mom is very proud of u all...
Coz u are amazing, by the way u are...

For being our brother now and ever, thank u
For keeping mom's smile, thank u
For sharing and caring here with us, thank u
And for being urself and change to be a better one, thank u...

Adikmu,
Rifi :)

Sunday, February 6, 2011

Re : Sekadar Tinta Maya

: Khalifa Rafa Azzahra

Aku bukan ingin bertanya
Mengapa dirimu masih jua di sana
Mungkin menyelimut bersama sepi
Atau menari bersama mimpi
Yang entah...

Tentang kata,
Kurasa ia masih membersamai para pecintanya

Tentang rasa,
Kurasa ia masih ada di antara serak puing asa

Tentang rindu dan cinta,
Kurasa kita harus samasama kembali pada makna-Nya

Maka biarlah tinta semu
Dari penghujung penamu
Yang mungkin hampir patah menuliskan rindu
Menjadi saksi bisu
Setidaknya aku, masih bisa memeluk bayangmu

Jadi, apa yang sungguh kau resahkan, Sayang?

Bila itu sunyi,
aku sudah berkencan dengannya sekian lama
Bila itu harap,
bukankah kita masih bisa menanti senja?
Melayangkan doadoa,
berharap terpaut di sayap malaikat

Maka aku bukan ingin bertanya
Mengapa dirimu masih jua di sana

Sebab tak perlu sebab
Tak perlu sembab
Karena kita masih bisa berbagi air mata cahaya

Bukan begitu, Sayang?





~ untuk my faculty-poem-mate ever
: Sedang resah dan gelisah kah?
Bukankah kita selalu punya Alloh di atas segalanya?
So, we don't have to be worry, ukh...do we? :)