Friday, September 23, 2011

(Tanpa Judul #1)

Apa yang membuat matamu begitu mendung memandangku?
Padahal sungguh nyata, gerimis di mataku. Tadi pagi.

Aku hanya ingin rengkuh hangatmu, memayungiku.
Itu saja. Biarlah luka bermuara, hingga akhirnya.

Dan aku pernah bermimpi, bersama kita menginjak biru dan jingga.
Di fajar, di senja. Adakah ia, setelah gemuruh sirna?

Tibatiba aku meragu, mengingat bekumu.
Tuhan tolong, jangan lagi ada badai.
Cukuplah dia di sana, menyaksikan mata airku bercerita.

Setidaknya aku tahu, dia baikbaik saja.
Meski tanpa pelangi, dan juga aku.



(perlahan mataku beranjak, menyaksikan awan berarak pelan)



Bandung, 23 September 2011
*hanya ingin menuliskan...sekelebat bayang lepas pagi tadi*

Sunday, September 18, 2011

Penjaga Rahasia

Sesekali aku merasa geli dengan sebutan ini. Apa lah. Kita hanya dua, yang dipercaya pula oleh dua. Lebih tepatnya mungkin: mereka menitipkan rahasia, pada kita.

Nyatanya, kita sama-sama ingin berada di sana. Menyaksikan kedua mata mereka bercahaya. Tapi apa daya, kita tak diizinkan rupanya. Biarlah jika demikian, kita titipkan saja mereka, pada Sang Maha Penjaga.

Apa yang lebih berharga dari sebuah rahasia? Kepercayaan untuk menjaganya, menurutku. Tak semua orang bisa mendapatkannya, bukan? Rahasia apa pun itu.

Bagaimana pun, aku tersenyum hari ini.

Saturday, September 17, 2011

Pertanyaan Pagi

Tiba-tiba aku tercenung, oleh seutas kata pagi ini. Aku memikirkannya sejenak. Diam. Lalu tiba-tiba aku teringat lagi, bahwa semuanya sudah tertulis. Aku lah yang tak boleh meragu. Aku lah yang tak boleh berhenti pada ikhtiarku. Bukankah hidup, selalu mengajari kita -pada akhirnya- untuk menerima?

Ini tentang langkah yang ingin Disempurnakan-Nya. Sepertinya Ia sudah Mengajakku berbelok. Memberiku tanjakan yang curam, serta sesekali turunan yang landai. Lalu mengapa, terkadang aku begitu malas menjejakkan kaki? Atau selalu bertanya-tanya tentang akhir dari perjalanan?

Itu mata. Yang senantiasa mengalirkan beningnya untukku. Sesekali berbinar, padahal aku ingin itu selamanya. Belum, belum cukup kuat mungkin aku menyalakannya. Itu saja saat ini, aku ingin itu. Biarlah itu menjadi, yang tergantung paling dekat dari keningku.

Ada lagi. Kaki-kaki mungil yang selalu mengajakku menapak menuju puncak. Sesekali mereka menarik lenganku, memintaku bercerita ini-itu. Dan selalu, akan ada lengkungku di sela-sela kebersamaan bersama mereka. Ah bukankah, sesungguhnya itu lebih dari cukup?

Ya, mungkin ini juga yang terpikirkan. Tapi kalau sudah meyakini, mengapa mesti meragukan? Yang terbaik, sudah disiapkan. Untuk perjuangan terbaik pula. Lalu mengapa harus bersedih?

Ah, banyak sekali pertanyaanku pagi ini.




"Apa yang kucari pagi ini selain dirimu, Matahari?"

Friday, September 9, 2011

Hadiah Untuk Bumil

: Diah

Ada yang terpeluk kalbunya
Saat kau lantunkan puisi-Nya
Bersama doa-doa cinta

Ada yang tergerak jemari kaki dan tangannya
Saat kau ceritakan dengan ceria
Hari-hari bahagiamu menantinya

Ada yang ingin segera melihat dunia
Dan kelak mengecupmu dan berkata :
"Ummi, aku mencintaimu karena Alloh..."


Bandung, 9 September 2011

Sebuah hadiah milad untuk Bumil :
Barokallohu fii umrik, Diah
Calon Ummi yang kelak akan dicintai oleh anandanya, insyaAlloh...
Semoga bilangan usiamu senantiasa bermanfaat untuk ummat. Amiiin Yaa Robb :')

Sepasang Kerinduan yang Bertamu Lalu Bertemu

Ini kisah sepasang rindu
yang begitu ingin bertamu
Tapi sebelumnya tak pernah tahu
ke arah mana harus menuju

Lalu mereka
Mengikhtiarkan niatnya
Melayangkan doadoa
Di pagi... Di senja...
Di sepertiga gulita...

Mengucap harap, mengadukan resah
Meminta dalam pasrah
Pada Sang Pereda Gelisah
: sungguh Robbi, kami ingin bertemu karena-Mu...

Maka Ia tuntun langkah kakimu
Mengetuk pintu,
Menyercah jendela cahaya,
Dan mengajaknya menuju tanah lapang
: bernama cinta

Segera membersamaimu, Saudaraku
Pasangan rindumu yang sejak dulu
jua ingin bertamu dan bertemu
: dengan hatimu




Bandung, awal Syawal 1432 H

untuk saudara dan saudariku yang akan segera berbilang genap Syawal ini
: Barokallohulaka wa baroka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir...

Monday, September 5, 2011

Tuhan Titipkan Padamu, Gadis

Tuhan Titipkan usia, di langkahmu, Gadis
Agar kau berjalan tegap
Dan kelak menjelajahi dunia dengan lengkap.

Tuhan Titipkan bahagia di jemarimu, Gadis
Agar kau tuliskan itu cinta
Dan membaginya dengan sesama, pun nanti, dengannya.

Tuhan pun Titipkan beban di pundakmu, Gadis
Agar kau belajar, mungkin juga menangis
Tapi sungguh, kuatmu kelak kan berlapis.

Maka tersenyumlah, Gadis
Allah Mencintaimu, lebih dari yang kau perlu *)




Bandung, 5 September 2011
- Hadiah milad dadakan untuk Mba @ekasept
Barokalloh fii umrik mbaaa :))

*) saya kutip dari kata2nya Ajuj dalam novel Galaksi Kinanthi-nya Tasaro GK

Saturday, September 3, 2011

Bidadari yang Kau Temukan di Dalam Pendiangan

Diakah,
Bidadari yang kau temukan di dalam pendiangan?

Sedari jauh sudah bisa kulihat
Serunai lembut putih hatinya
Dari kepulan asap yang mengelana

Kerjap kejoranya di ujung tungku
Terkadang membuatmu terpaku
Atau mungkin, tak pernah rasa lagi abuabu

Dan hari ini
Kau akan menggenapinya
: Bidadari itu,
yang kau temukan di dalam pendiangan

Ah, aku tahu sejak lama, Kakak
Sejak gemerisik kekayu beraduadu
Sejak percik pertama nyala api
Berkobar di matamu

: ini bidadari,
yang sayapnya kelak
tak akan pernah berhenti memelukmu hangat





Karawang, 3 September 2011

~ A wedding gift for my cousin and his angel,
Aa Nugraha Arief and Teteh Latifa Annisa
: Barokallohulaka wa baroka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir
So, when the wings are completed, what else do you waiting for fly? :')