Saturday, September 4, 2010
Ada Rindumu Di Ujung Jalan Itu
Yang kau selipkan di sela dedaunan
Berharap angin menerbangkan
Hingga sampai ke hatinya
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang kau bisikan pada ilalang
Berharap mereka bergemerisik
Hingga mampir ke dengarnya
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang kau tuliskan di tiap sajak dan prosa
Berharap di suatu masa ia mengeja
Dan mengecup pesanmu
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang ingin kau antarkan ke peluknya
Biar ia rasa, apa yang kau rasa
Biar ia cinta, apa yang kau cinta
Akhirnya detik itu tiba
Telah kau bungkus rindumu
Bersama aroma embun pagi hari
Jangan ragu, melangkahlah
Karena,
ada rindunya di ujung jalan itu
Menanti rindumu
~untuk seorang kakak, 040910
Monday, August 30, 2010
Tak Ingin Lelah
Meski sungguh tertatih.
Adakah sudi Kau Berlari memelukku?
Tak ingin lelah kueja doa malam-malam panjang.
Meski terbata.
Adakah sudi Kau sedikit Memasang telinga?
Tak ingin lelah ku hembuskan dzikir-dzikir cinta.
Meski kata ikhlas masih jauh tertata.
Adakah Kau Ridha?
Wednesday, August 18, 2010
Lelaki Matahari
#1
Aku tahu memang begini rasanya saat kau pergi.
Tapi aku memberanikan diri,
untuk tetap jatuh cinta.
#2
Kutaburkan mentari di jalan kepergianmu.
Berharap mampu kujejaki cahayanya dalam doa.
Kau, lelaki matahariku.
#3
Hujan jadi saksi kepergianmu.
Luruh di hatiku.
Meninggalkan rindu.
#4
Aku membujukmu pulang,
lewat lantunan hujan.
Tapi kau sepi, pergi dalam diam.
Diam2 kulukis pelangi di jalanmu menuju rumah.
280710 *untuk ayahanda
dua puluh lima
terpaku pada angka-angka sendu itu
bukan, bukan hari lahirmu
tapi satu hal yang kupikirkan berulang
tapi tak pernah kutemukan jawabannya
dua puluh lima menari-nari
aku ingin pergi
tapi dia menghalangi langkahku
adakah sang penyelamatku?
menebusnya dalam nyata?
kadang aku suka dalam dua puluh lima
tapi sejenak, karena setelahnya menguap
terdiam. bisu. aku kehilangan makna
pada dua puluh lima:
aku menyerah
namun, sesekali kudengar bisikan
akankah penyelamatku datang?
karena dua puluh lima bermetamorfosa
pada jumlah yang tak bisa kuhitung nyata
180810
Wednesday, August 4, 2010
Bunda Cinta
(1)
Bunda cinta, apakah aku harus menyerah?
Sedang peluhmu belum sempat kuseka.
Dan doamu telah berjuta untukku.
(2)
Bunda cinta, sungguh aku tak suka.
Tapi, tiap mengingatmu aku jadi kelu.
Tak tega khianati tiap cinta yang kau eja.
(3)
Bunda cinta, telah kau bukakan dengan doa.
Jalan kupu-kupu.
Di sana aku bermetamorfosa.
Mencoba persembahkan madu termanis untukmu.
Sunday, April 25, 2010
Untuk Adinda Yunia Anggarini (pada miladnya yang ke-18)
Seperti ulat kecil
Yang malu-malu melahap daun
Atau seperti pelukis
Yang hanya punya sedikit warna
Untuk melukis dunia
Tapi lihatlah dirimu kini
Perlahan menjelma kepompong
Melahap segala, menimbun energi
Untuk terbangmu nanti
Atau perlahan kau menggenggam warna
Satu, satu, lalu jadi beribu
Dan meski aku tak tahu
Apakah engkau dapat melukis pelangi
pada wajah bumi ini?
De, aku menunggu kepak sayapmu
Juga pelangi di kanvasmu
Berikanlah senyuman pada wajah umat ini...
Met milad, de...
Semoga Alloh senantiasa menjagamu
Dalam keistiqomahan berjuang di jalanNya
_kakakmu_
Happy
And friends...
Happy in that day that i loved so much
Because i know i have a gift from God
Friends that are special and unique
Very caring and entertaining
Friends that teach me how about
see this life by other ways
And keep thanks to God for all
Friends that keep me remember
That positive minds can come
a positive destiny
Luv u all my aodpmates :)