Hari ini, biru meluruh dari langit
Bukan, bukan karena ia tak cinta
Tapi karena ia mungkin merindumu jua
Duhai Bidadari Biru,
Goresan penamu adalah goresan surga
Maka bila hari ini kami menitikan air mata
Pastilah karena juangmu pada semesta
Juga cintamu,
pada Rabb kita...
18 Mei 2011
Turut berduka atas berpulangnya Mba Nurul F. Huda. Salah satu inspiratorku di dunia kepenulisan.
Semoga Alloh merengkuhmu dalam Peluk-Nya dengan paling sayang ya, Mba... T_T
Thursday, May 19, 2011
Saturday, May 14, 2011
Lingkan : Semoga Bahagia Memelukmu Erat
: Lingkan
Aku ingat langkahku malumalu
Saat ada yang menyatukan genggamku
dengan genggammu
Ini mungkin perkenalan kita, yang dipeluk rindu
Karena aku masih merindu kita bertemu di suatu waktu
Bagaimana aku mengenalmu, duhai gadis?
Melewati katakata ritmis,
Atau kicauan di sela gerimis
Itu dirimu, yang tersenyum manis
Kini, ada yang datang menggenapimu;
Dia. Yang kau sebut dalam doadoamu.
Yang menyebutmu dalam doadoanya.
Dengannya, kau akan mengeja cinta
Maka bagiku,
Melihatmu dalam gaun suci
Dan bersamanya mengucap janji
Adalah kebahagiaan hati...
Semoga bahagia memelukmu erat, Lingkan :)
*) kado pernikahan Lingkan-Sonny (1 Mei 2011)
Aku ingat langkahku malumalu
Saat ada yang menyatukan genggamku
dengan genggammu
Ini mungkin perkenalan kita, yang dipeluk rindu
Karena aku masih merindu kita bertemu di suatu waktu
Bagaimana aku mengenalmu, duhai gadis?
Melewati katakata ritmis,
Atau kicauan di sela gerimis
Itu dirimu, yang tersenyum manis
Kini, ada yang datang menggenapimu;
Dia. Yang kau sebut dalam doadoamu.
Yang menyebutmu dalam doadoanya.
Dengannya, kau akan mengeja cinta
Maka bagiku,
Melihatmu dalam gaun suci
Dan bersamanya mengucap janji
Adalah kebahagiaan hati...
Semoga bahagia memelukmu erat, Lingkan :)
*) kado pernikahan Lingkan-Sonny (1 Mei 2011)
Thursday, April 14, 2011
Melankolia Kita
Doa itu sudah kutitipkan.
Pada sayapsayap senja. Sore tadi.
...dan berpilinlah dua doa ke langit tertinggi,
tempat dua hati melabuhkan sepi.
Langit bertanya, apa yang kau minta?
Lalu kujawab, cinta-Nya dalam setiap detik usia.
..dan bertemu sebelah jiwa agar din ini menjadi sempurna.
*) lagi, sebuah balas-membalas kata bersama Mba Ajeng. Saya membuat dua baris pertama di tiap bait, dan Mba Ajeng sisanya. Melankolia kita...
Pada sayapsayap senja. Sore tadi.
...dan berpilinlah dua doa ke langit tertinggi,
tempat dua hati melabuhkan sepi.
Langit bertanya, apa yang kau minta?
Lalu kujawab, cinta-Nya dalam setiap detik usia.
..dan bertemu sebelah jiwa agar din ini menjadi sempurna.
*) lagi, sebuah balas-membalas kata bersama Mba Ajeng. Saya membuat dua baris pertama di tiap bait, dan Mba Ajeng sisanya. Melankolia kita...
Monday, April 11, 2011
Saturday, April 9, 2011
Semoga...
Semoga Dia memberimu keberanian
Untuk mengatakan kebaikan
Lalu tersenyum, karena ia sudah tertunaikan
Biarlah hasil akhir pada-Nya diserahkan...
Semoga Dia memberiku kekuatan
Untuk tetap bertahan
Mesti perih sedu sedan
Tapi apa yang lebih indah dari perjuangan?
Semoga Dia memberi kita kesempatan
Untuk saling berdekatan
Berlabuh pada tepi-tepi malam
Lalu bersama mengucap doa dalam-dalam...
Untuk mengatakan kebaikan
Lalu tersenyum, karena ia sudah tertunaikan
Biarlah hasil akhir pada-Nya diserahkan...
Semoga Dia memberiku kekuatan
Untuk tetap bertahan
Mesti perih sedu sedan
Tapi apa yang lebih indah dari perjuangan?
Semoga Dia memberi kita kesempatan
Untuk saling berdekatan
Berlabuh pada tepi-tepi malam
Lalu bersama mengucap doa dalam-dalam...
Sunday, April 3, 2011
Hujan Pertama di Bulan April
Hujan pertama di bulan April
Masih tersisa senyummu di sela rintiknya
Juga kebersamaan, yang terasa menentramkan
Bukan langit pekat yang kuharapkan,
cukuplah gerimis yang meneduhkan
Lalu biar kusesap, bau tanah setelah hujan
Apakah di tempatmu,
ada melankolia yang sama?
Ini hujan pertama di bulan April
Tepat setelah langit kembali cerah,
aku menitip harap...
...agar pelangi itu segera datang.
Masih tersisa senyummu di sela rintiknya
Juga kebersamaan, yang terasa menentramkan
Bukan langit pekat yang kuharapkan,
cukuplah gerimis yang meneduhkan
Lalu biar kusesap, bau tanah setelah hujan
Apakah di tempatmu,
ada melankolia yang sama?
Ini hujan pertama di bulan April
Tepat setelah langit kembali cerah,
aku menitip harap...
...agar pelangi itu segera datang.
Dear Matahari...
Dear Matahari,
Bagaimana kabarmu di sana? Semoga bahagia, bersama cahaya kebaikan yang setia menemani, hingga akhir nanti. Aku tak bosan meminta pada-Nya agar kelak kita menikmati surga-Nya bersama. Aku menyayangimu, meski itu jarang sekali keluar dari ucapanku, dulu.
Aku semakin dewasa sekarang. Apa kau bisa lihat aku? Aku bukan lagi anak kecil yang merengek minta dibelikan jajan, atau remaja yang minta kau jemput setiap pulang. Tapi aku masih ingin sekali...kau acak-acak rambutku, lalu kau gandeng sepanjang perjalanan menuju rumah.
Apa impian-impianmu, Matahari? Maafkan, bila aku tak pernah sekalipun bertanya tentang itu. Yang aku tahu, kaulah orang pertama yang selalu berusaha mewujudkan mimpi-mimpi kami. Mengantarkan kami pada sesuatu bernama keberanian. Lalu membiarkan kami sendiri menemukan jalan, sambil kau pandang dari kejauhan. Maka masih saja senyummu membekas, dan bau keringatmu menempel di sepanjang langkah kami.
Malam terakhir bersamamu, itulah saat terakhir pula aku melihat tawamu. Ah, mengapa aku tak jua menyadari saat-saat kau melemah. Genggamanmu yang tak sekuat dulu saat menggandeng tanganku. Kerutan di wajahmu yang kian bertambah setiap waktu. Maafkan...
Terima kasih, Matahari. Bagi kami, sinarmu tak pernah padam. Bahkan pada saat langit paling kelam.
Bagaimana kabarmu di sana? Semoga bahagia, bersama cahaya kebaikan yang setia menemani, hingga akhir nanti. Aku tak bosan meminta pada-Nya agar kelak kita menikmati surga-Nya bersama. Aku menyayangimu, meski itu jarang sekali keluar dari ucapanku, dulu.
Aku semakin dewasa sekarang. Apa kau bisa lihat aku? Aku bukan lagi anak kecil yang merengek minta dibelikan jajan, atau remaja yang minta kau jemput setiap pulang. Tapi aku masih ingin sekali...kau acak-acak rambutku, lalu kau gandeng sepanjang perjalanan menuju rumah.
Apa impian-impianmu, Matahari? Maafkan, bila aku tak pernah sekalipun bertanya tentang itu. Yang aku tahu, kaulah orang pertama yang selalu berusaha mewujudkan mimpi-mimpi kami. Mengantarkan kami pada sesuatu bernama keberanian. Lalu membiarkan kami sendiri menemukan jalan, sambil kau pandang dari kejauhan. Maka masih saja senyummu membekas, dan bau keringatmu menempel di sepanjang langkah kami.
Malam terakhir bersamamu, itulah saat terakhir pula aku melihat tawamu. Ah, mengapa aku tak jua menyadari saat-saat kau melemah. Genggamanmu yang tak sekuat dulu saat menggandeng tanganku. Kerutan di wajahmu yang kian bertambah setiap waktu. Maafkan...
Terima kasih, Matahari. Bagi kami, sinarmu tak pernah padam. Bahkan pada saat langit paling kelam.
Subscribe to:
Posts (Atom)