It’s a beautiful world
Let’s fly away into the sky
You know it feels right
With a worn out map as our guide
Tryin' to move a world that's stopped we're searching for...the answer
Looking like the moon
Cold and sad's as it seems to be
Feeling down and out
Won't you come and shine on me
You're the perfect light of my life
Shining brightly
Loving you forever
Shine so beautiful and brightly
I've got you
You've got me
Holding each other
From the world's end to another
No matter where we go together
Tenderly into the blue
The way that you walk
The way that you talk
Seasons will change
Kids get new names
"Fame" is just another cover saying
We should try to go and better ourselves
Well at the end of the day
All you see is yourself
So settle down now go look in the mirror realize
Just a glance will paralyze
and convince you otherwise
The contentment that you knew
I'm guilty of it, too
It’s not over yet, our journey will still continue on
What a wonderful world
Looking all around for love
I've filled my pocket up with freedom and loneliness
So settle down now I'm just gonna keep the pace
Cause I'm learnin' all the time
I need you by my side
All those wishes there just as we left them behind
You're the perfect light of my life
Shining on me
Loving you forever
Shine so beautiful and brightly
I've got you
You've got me
Holding each other
From the world's end to another
No matter where we go together
Tenderly into the blue
Now the two of us are becoming just as one
The world is turning round and round
Loving you forever
Shine so beautiful and brightly
I've got you
You've got me
Holding each other
From the world's end to another
No matter where we go together
Tenderly into the blue
I just wanna live forever
Always will come in my heart
Always will we be together
Love one another
Always in my heart you'll be
*) a song by Monkey Majik, love it much :)
Wednesday, June 8, 2011
Monday, June 6, 2011
Dear Kamu, Yang Setia Mendengarkanku, Bahkan Tanpa Aku Minta
Dear Kamu,
Terima kasih telah setia mendengarkanku, bahkan tanpa aku minta. Terkadang aku sendiri lupa, bahwa aku selalu punya seseorang untuk mendengarkan. Ah, aku terlalu takut berkata-kata. Hingga langkahku terkadang kulihat makin tak nyata. Apa ini, yang membuat rasa tak lagi ada?
Aku pernah bertanya pada suatu pagi. Mengapa begitu sulit untuk menjadi sederhana? Padahal aku hanya ingin itu. Menjalani skenario dari-Nya sebagai sebaik-baik pemeran. Bukankah sejatinya itu begitu sederhana? Lalu, bagaimana? Ajari aku.
Kamu, apakah sering mendengar keluhku? Itu bentuk duka atau protes yang sia-sia menurutmu? Sudah sering kau dengar pula bukan, aku tak pernah suka. Tapi aku membiarkan diri larut dalam siksa. Ya, siksa yang kubuat sendiri. Bukankah katamu, Tuhan takkan merubah nasib kita bila kita tidak berusaha? Lalu, apakah sungguh aku sudah berusaha? Sebaik-baik usaha?
Realita. Terkadang ia yang mencengkram hari-hariku. Menghantui di gegantung mimpi-mimpi. Ah, betapa merugi...hati yang resah karena sesuatu yang tak pasti. Bahkan aku tak berusaha membuatnya pasti.
Tahukah kamu? Ada yang berusaha kuculik setiap pagi. Cahaya langit yang menyinari impian di bumi. Aku berusaha mengurungnya dalam toples kecil di pojokan, tapi tak pernah berhasil. Aku rasa, karena aku tak pantas mendapatkannya. Mungkin terlalu mahal untuk wadah jiwa yang tak lagi bening.
Perlahan kulihat mataku melebam. Sinarnya meredup. Dan aku mulai mengasihani diri sendiri. Apalah, katamu. Aku tak boleh begitu. Katamu aku tegar. Katamu aku kuat. Katamu aku harus berubah! Bisakah? Tanyaku rapat-rapat.
Lalu kamu tersenyum, dan menggenggam erat tanganku. Memelukku dengan sabarmu. Membelaiku dalam rengkuh kokohmu. Aku terisak.
Maka, mencuri senyummu adalah saat-saat bahagiaku. Memastikan kamu baik-baik saja. Karena terkadang, aku hanya ingin didengarkan oleh kamu, bahkan tanpa aku minta. Dan kupikir itu cukup, untuk membuatku tetap bertahan. Semoga.
Terima kasih telah setia mendengarkanku, bahkan tanpa aku minta. Terkadang aku sendiri lupa, bahwa aku selalu punya seseorang untuk mendengarkan. Ah, aku terlalu takut berkata-kata. Hingga langkahku terkadang kulihat makin tak nyata. Apa ini, yang membuat rasa tak lagi ada?
Aku pernah bertanya pada suatu pagi. Mengapa begitu sulit untuk menjadi sederhana? Padahal aku hanya ingin itu. Menjalani skenario dari-Nya sebagai sebaik-baik pemeran. Bukankah sejatinya itu begitu sederhana? Lalu, bagaimana? Ajari aku.
Kamu, apakah sering mendengar keluhku? Itu bentuk duka atau protes yang sia-sia menurutmu? Sudah sering kau dengar pula bukan, aku tak pernah suka. Tapi aku membiarkan diri larut dalam siksa. Ya, siksa yang kubuat sendiri. Bukankah katamu, Tuhan takkan merubah nasib kita bila kita tidak berusaha? Lalu, apakah sungguh aku sudah berusaha? Sebaik-baik usaha?
Realita. Terkadang ia yang mencengkram hari-hariku. Menghantui di gegantung mimpi-mimpi. Ah, betapa merugi...hati yang resah karena sesuatu yang tak pasti. Bahkan aku tak berusaha membuatnya pasti.
Tahukah kamu? Ada yang berusaha kuculik setiap pagi. Cahaya langit yang menyinari impian di bumi. Aku berusaha mengurungnya dalam toples kecil di pojokan, tapi tak pernah berhasil. Aku rasa, karena aku tak pantas mendapatkannya. Mungkin terlalu mahal untuk wadah jiwa yang tak lagi bening.
Perlahan kulihat mataku melebam. Sinarnya meredup. Dan aku mulai mengasihani diri sendiri. Apalah, katamu. Aku tak boleh begitu. Katamu aku tegar. Katamu aku kuat. Katamu aku harus berubah! Bisakah? Tanyaku rapat-rapat.
Lalu kamu tersenyum, dan menggenggam erat tanganku. Memelukku dengan sabarmu. Membelaiku dalam rengkuh kokohmu. Aku terisak.
Maka, mencuri senyummu adalah saat-saat bahagiaku. Memastikan kamu baik-baik saja. Karena terkadang, aku hanya ingin didengarkan oleh kamu, bahkan tanpa aku minta. Dan kupikir itu cukup, untuk membuatku tetap bertahan. Semoga.
Friday, June 3, 2011
Untuk Bunda Yoyoh Yusroh
Bunda,
Aku percaya
Jiwa yang baik akan berkumpul dengan yang baik
Dalam ridho-Nya yang melingkup semesta
Maka jika kepergianmu adalah suatu niscaya,
Izinkanlah kami memaknai
Arti pengorbanan, perjuangan, serta ketulusan
Dari beningnya hatimu...
Dari mulianya akhlakmu...
Dan dari amal nyatamu untuk ummat...
Suatu saat nanti,
Aku ingin bertemu lagi denganmu, Bunda
Dalam jannah-Nya yang kita cinta
Karawang, 21 Mei 2011
~ Innalillahi wa innailaihi ra'jiun, satu lagi ibu terbaik diminta pulang oleh-Nya...
Turut berduka atas wafatnya Ustadzah Yoyoh Yusroh, ibunda 13 penghafal Al Quran
Semoga Alloh memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.. T_T
Aku percaya
Jiwa yang baik akan berkumpul dengan yang baik
Dalam ridho-Nya yang melingkup semesta
Maka jika kepergianmu adalah suatu niscaya,
Izinkanlah kami memaknai
Arti pengorbanan, perjuangan, serta ketulusan
Dari beningnya hatimu...
Dari mulianya akhlakmu...
Dan dari amal nyatamu untuk ummat...
Suatu saat nanti,
Aku ingin bertemu lagi denganmu, Bunda
Dalam jannah-Nya yang kita cinta
Karawang, 21 Mei 2011
~ Innalillahi wa innailaihi ra'jiun, satu lagi ibu terbaik diminta pulang oleh-Nya...
Turut berduka atas wafatnya Ustadzah Yoyoh Yusroh, ibunda 13 penghafal Al Quran
Semoga Alloh memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.. T_T
Thursday, May 19, 2011
Untuk Bidadari Biru
Hari ini, biru meluruh dari langit
Bukan, bukan karena ia tak cinta
Tapi karena ia mungkin merindumu jua
Duhai Bidadari Biru,
Goresan penamu adalah goresan surga
Maka bila hari ini kami menitikan air mata
Pastilah karena juangmu pada semesta
Juga cintamu,
pada Rabb kita...
18 Mei 2011
Turut berduka atas berpulangnya Mba Nurul F. Huda. Salah satu inspiratorku di dunia kepenulisan.
Semoga Alloh merengkuhmu dalam Peluk-Nya dengan paling sayang ya, Mba... T_T
Bukan, bukan karena ia tak cinta
Tapi karena ia mungkin merindumu jua
Duhai Bidadari Biru,
Goresan penamu adalah goresan surga
Maka bila hari ini kami menitikan air mata
Pastilah karena juangmu pada semesta
Juga cintamu,
pada Rabb kita...
18 Mei 2011
Turut berduka atas berpulangnya Mba Nurul F. Huda. Salah satu inspiratorku di dunia kepenulisan.
Semoga Alloh merengkuhmu dalam Peluk-Nya dengan paling sayang ya, Mba... T_T
Saturday, May 14, 2011
Lingkan : Semoga Bahagia Memelukmu Erat
: Lingkan
Aku ingat langkahku malumalu
Saat ada yang menyatukan genggamku
dengan genggammu
Ini mungkin perkenalan kita, yang dipeluk rindu
Karena aku masih merindu kita bertemu di suatu waktu
Bagaimana aku mengenalmu, duhai gadis?
Melewati katakata ritmis,
Atau kicauan di sela gerimis
Itu dirimu, yang tersenyum manis
Kini, ada yang datang menggenapimu;
Dia. Yang kau sebut dalam doadoamu.
Yang menyebutmu dalam doadoanya.
Dengannya, kau akan mengeja cinta
Maka bagiku,
Melihatmu dalam gaun suci
Dan bersamanya mengucap janji
Adalah kebahagiaan hati...
Semoga bahagia memelukmu erat, Lingkan :)
*) kado pernikahan Lingkan-Sonny (1 Mei 2011)
Aku ingat langkahku malumalu
Saat ada yang menyatukan genggamku
dengan genggammu
Ini mungkin perkenalan kita, yang dipeluk rindu
Karena aku masih merindu kita bertemu di suatu waktu
Bagaimana aku mengenalmu, duhai gadis?
Melewati katakata ritmis,
Atau kicauan di sela gerimis
Itu dirimu, yang tersenyum manis
Kini, ada yang datang menggenapimu;
Dia. Yang kau sebut dalam doadoamu.
Yang menyebutmu dalam doadoanya.
Dengannya, kau akan mengeja cinta
Maka bagiku,
Melihatmu dalam gaun suci
Dan bersamanya mengucap janji
Adalah kebahagiaan hati...
Semoga bahagia memelukmu erat, Lingkan :)
*) kado pernikahan Lingkan-Sonny (1 Mei 2011)
Thursday, April 14, 2011
Melankolia Kita
Doa itu sudah kutitipkan.
Pada sayapsayap senja. Sore tadi.
...dan berpilinlah dua doa ke langit tertinggi,
tempat dua hati melabuhkan sepi.
Langit bertanya, apa yang kau minta?
Lalu kujawab, cinta-Nya dalam setiap detik usia.
..dan bertemu sebelah jiwa agar din ini menjadi sempurna.
*) lagi, sebuah balas-membalas kata bersama Mba Ajeng. Saya membuat dua baris pertama di tiap bait, dan Mba Ajeng sisanya. Melankolia kita...
Pada sayapsayap senja. Sore tadi.
...dan berpilinlah dua doa ke langit tertinggi,
tempat dua hati melabuhkan sepi.
Langit bertanya, apa yang kau minta?
Lalu kujawab, cinta-Nya dalam setiap detik usia.
..dan bertemu sebelah jiwa agar din ini menjadi sempurna.
*) lagi, sebuah balas-membalas kata bersama Mba Ajeng. Saya membuat dua baris pertama di tiap bait, dan Mba Ajeng sisanya. Melankolia kita...
Monday, April 11, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)