Ada pekat menggeliat
di pucuk-pucuk dahan pintu kamarku.
Tanpa cahaya, dari tingkap-tingkap
yang bermuram durja.
Apalah kehangatan?
Sunyi, sedan, dan pahit ruam
telah kupaksakan,
untuk kuterima sepenuhnya,
untuk kunikmati seutuhnya.
Lihatlah pagi yang menggeriap.
Mendung telah menghapusnya,
dari juta daftar periang hati.
Mungkin ia telah malu-malu sembunyi.
Tak ingin basah oleh kisah,
tak ingin kalah oleh tumpah.
Biarlah, ia nikmati periuk nasi,
sampai senjanya sendiri.
Aku tertemani bulir,
menganak kali di ujung jari.
Mengerjap, dan jatuh lagi.
Apa pasal? Tak ada.
Hanya jiwaku yang kubiarkan rapuh.
Ditampar waktu yang tak jua
menyembuhkan pilu.
Dan tiba-tiba aku cemburu,
pada tawa dan senyuman.
Ragu menyesak di penuh tanda tanya : Akankah?
Biarlah, kan kuseret sendiri
koper-koper perih ini.
Kan kuhempas,
pada jurang terdalam,
pada waktu paling malam,
dan pada rindu paling kelam.
~saat membayangkan luka, semoga tak kurasakan
Wednesday, October 13, 2010
Tuesday, October 12, 2010
Rindu Sahajamu, Kawan
Ada kenangan yang riuh berderai
di sudut rumahku, Kawan.
Mungkin ia sudah tak sabar
menanti panorama yang jua
pernah kita saksikan kala senja.
Tapi di ujung lembayung,
kusaksikan wajah murammu berbalut luka.
Seperti ada perih, melilit pahit.
Lalu perlahan cahaya matamu menggeriap pergi.
Lalu, apakah benar bit-bit data maya
tlah menjarakkan kita?
Membuat alpa pada cangkir-cangkir susu
penadah cengkrama di pagi kita.
Ah, aku hanya rindu satu:
sahajanya dirimu.
~dibuat dalam rangka Arisan Kata ke-6 dengan 10 kata ajaib : data, lembayung, sahaja, panorama, riuh, derai, geriap, muram, lilit, dan susu :)
di sudut rumahku, Kawan.
Mungkin ia sudah tak sabar
menanti panorama yang jua
pernah kita saksikan kala senja.
Tapi di ujung lembayung,
kusaksikan wajah murammu berbalut luka.
Seperti ada perih, melilit pahit.
Lalu perlahan cahaya matamu menggeriap pergi.
Lalu, apakah benar bit-bit data maya
tlah menjarakkan kita?
Membuat alpa pada cangkir-cangkir susu
penadah cengkrama di pagi kita.
Ah, aku hanya rindu satu:
sahajanya dirimu.
~dibuat dalam rangka Arisan Kata ke-6 dengan 10 kata ajaib : data, lembayung, sahaja, panorama, riuh, derai, geriap, muram, lilit, dan susu :)
Saturday, October 9, 2010
Apa arti #pagi bagimu?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa belaian lembut para peri embun
yang bangunkan dari mimpi
dan mengajakmu berlari?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa tepuk hangat mentari
yang perlahan memeluk
lalu mengajak mengerjap?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa dedaunan jatuh perlahan
menjadi dzikir panjang
yang tak pernah membenci angin?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa memotret rerumput yang basah
dan menikmati bebaunya
lalu tersenyum di ujung jalan?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa menghias kota lama
dengan sepercik asa baru?
Di sana, kau temukan rindumu.
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa senandung gemericik air
yang mengajakmu turut menari
dan mewarnai hari?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa hangat roti bolu
yang disajikan bunda,
pada cawan-cawan penuh cinta?
Apakah serupa belaian lembut para peri embun
yang bangunkan dari mimpi
dan mengajakmu berlari?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa tepuk hangat mentari
yang perlahan memeluk
lalu mengajak mengerjap?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa dedaunan jatuh perlahan
menjadi dzikir panjang
yang tak pernah membenci angin?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa memotret rerumput yang basah
dan menikmati bebaunya
lalu tersenyum di ujung jalan?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa menghias kota lama
dengan sepercik asa baru?
Di sana, kau temukan rindumu.
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa senandung gemericik air
yang mengajakmu turut menari
dan mewarnai hari?
Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa hangat roti bolu
yang disajikan bunda,
pada cawan-cawan penuh cinta?
Tuesday, October 5, 2010
Dua Sahabat
Dua sahabat
Tak peduli terik sengat surya
Terantuk-antuk kerikil jalan
Perlahan berlari memasang sayap :
"Layang-layang putus itu kami yang milik!"
Dua sahabat
Menulis langit dengan batu
Mengirim pesan-pesan penuh rindu
Pada ayah yang berpulang lebih dulu :
"Adakah doa kami sampai dan ijabah untukmu?"
Dua sahabat
Bertemu dalam senja
Dengan peluh yang mengaduh
Dengan pikir yang mengusut :
"Inikah yang jadi jalan kau dan aku?"
Dua sahabat
Mencium aroma hujan
Sambil menyeruput kopi musim semi
Saling merangkai kisah yang sempat terlewat :
"Ayo, ceritakan mimpimu!"
Dua sahabat
Hanya berjumpa lewat huruf dan tanda baca
Dalam bilik-bilik maya
Tapi cinta tetap dirasa :
"Kutunggu sapamu, Kawan!"
Dua sahabat
Dipeluk malaikat
Saat dua tangan berjabat
Saat ikatan paling kuat melekat :
"Cita kita, berkumpul abadi."
Dua sahabat
Satu di siang dan satu di malam
Satu di utara dan satu di selatan
Saling tersenyum,
dan mengucap...
~untuk dua sahabat, yang bertemu dan menyayangi karena Alloh~
Tak peduli terik sengat surya
Terantuk-antuk kerikil jalan
Perlahan berlari memasang sayap :
"Layang-layang putus itu kami yang milik!"
Dua sahabat
Menulis langit dengan batu
Mengirim pesan-pesan penuh rindu
Pada ayah yang berpulang lebih dulu :
"Adakah doa kami sampai dan ijabah untukmu?"
Dua sahabat
Bertemu dalam senja
Dengan peluh yang mengaduh
Dengan pikir yang mengusut :
"Inikah yang jadi jalan kau dan aku?"
Dua sahabat
Mencium aroma hujan
Sambil menyeruput kopi musim semi
Saling merangkai kisah yang sempat terlewat :
"Ayo, ceritakan mimpimu!"
Dua sahabat
Hanya berjumpa lewat huruf dan tanda baca
Dalam bilik-bilik maya
Tapi cinta tetap dirasa :
"Kutunggu sapamu, Kawan!"
Dua sahabat
Dipeluk malaikat
Saat dua tangan berjabat
Saat ikatan paling kuat melekat :
"Cita kita, berkumpul abadi."
Dua sahabat
Satu di siang dan satu di malam
Satu di utara dan satu di selatan
Saling tersenyum,
dan mengucap...
~untuk dua sahabat, yang bertemu dan menyayangi karena Alloh~
Sunday, September 19, 2010
Larik Tentangmu
Ini larik tentang hari
Tempat saat aku menatap lama-lama matamu
Di sana ada cinta yang menggenang
Untuk wanita dan putri kecil yang kau cinta
Ini larik tentang pagi
Saat kau beranjak pergi
Menelusuri kepingan hidup
Dan menjejaki mimpi
Kau anyam harapan, lalu melangkah damai
Ini larik tentang panasnya mentari
Tapi kau hirau peluhmu
Tiap tetesnya kan jadi surga
Tiap detiknya kan jadi makna
Tak ada yang tersia
Ini larik tentang senja
Saat lelahmu terhapus sudah
Ada secangkir kopi dan sepenuh rindu
Matamu berbinar riang,
saat sang putri melonjak di pelukan
Ini larik tentang malam
Tak perlu yang lain, hanya syukur yang menggantung
Di tiap pojok rumah, dan setelah sujud panjang
Ah, bahkan rembulan pun tersenyum untukmu
Kau letakkan tanganku di genggammu
Kau ceritakan keajaiban hidup
Kau goreskan indah masa kanakku
Kau wariskan keberanian
Kau cinta dengan sederhana
Ah ya, ini memang larik tentangmu
Yang kurindu di detik waktuku
Yang diam-diam kupetik senyummu
Yang kuharap kita,
kelak berkumpul di surga abadi...
I LOVE U, DAD...
(17/09/2005 - 17/09/2010)
Tempat saat aku menatap lama-lama matamu
Di sana ada cinta yang menggenang
Untuk wanita dan putri kecil yang kau cinta
Ini larik tentang pagi
Saat kau beranjak pergi
Menelusuri kepingan hidup
Dan menjejaki mimpi
Kau anyam harapan, lalu melangkah damai
Ini larik tentang panasnya mentari
Tapi kau hirau peluhmu
Tiap tetesnya kan jadi surga
Tiap detiknya kan jadi makna
Tak ada yang tersia
Ini larik tentang senja
Saat lelahmu terhapus sudah
Ada secangkir kopi dan sepenuh rindu
Matamu berbinar riang,
saat sang putri melonjak di pelukan
Ini larik tentang malam
Tak perlu yang lain, hanya syukur yang menggantung
Di tiap pojok rumah, dan setelah sujud panjang
Ah, bahkan rembulan pun tersenyum untukmu
Kau letakkan tanganku di genggammu
Kau ceritakan keajaiban hidup
Kau goreskan indah masa kanakku
Kau wariskan keberanian
Kau cinta dengan sederhana
Ah ya, ini memang larik tentangmu
Yang kurindu di detik waktuku
Yang diam-diam kupetik senyummu
Yang kuharap kita,
kelak berkumpul di surga abadi...
I LOVE U, DAD...
(17/09/2005 - 17/09/2010)
Tuesday, September 7, 2010
Padamu Aku Cemburu
Padamu yang basahkan lidah
Dengan dzikir-dzikir surga
Dan senandung cintaNya
Aku cemburu
Padamu yang rendahkan dahi
Dalam sujud-sujud panjang
Di malam-malam cahaya
Aku cemburu
Padamu yang eja terbata
Kata-kata cintaNya
Di setiap makna, di sepanjang suka duka
Aku cemburu
Padamu yang tetap terjaga
Renungi kalamNya
Meski malam kian menggulita
Aku cemburu
Padamu yang tak pernah lupa
Bersihkan tiap keping harta
Penuhi hak mereka
Aku cemburu
Padamu yang menjaga puasa
Tak terbakar amarah
Dan kendalikan egomu
Aku cemburu
Padamu yang menulis cinta
Di tiap bait makna
Lalu berbagi cahaya
Aku cemburu
Padamu aku cemburu...
Dan padamu aku berguru...
~di penghujung Ramadhan
Dengan dzikir-dzikir surga
Dan senandung cintaNya
Aku cemburu
Padamu yang rendahkan dahi
Dalam sujud-sujud panjang
Di malam-malam cahaya
Aku cemburu
Padamu yang eja terbata
Kata-kata cintaNya
Di setiap makna, di sepanjang suka duka
Aku cemburu
Padamu yang tetap terjaga
Renungi kalamNya
Meski malam kian menggulita
Aku cemburu
Padamu yang tak pernah lupa
Bersihkan tiap keping harta
Penuhi hak mereka
Aku cemburu
Padamu yang menjaga puasa
Tak terbakar amarah
Dan kendalikan egomu
Aku cemburu
Padamu yang menulis cinta
Di tiap bait makna
Lalu berbagi cahaya
Aku cemburu
Padamu aku cemburu...
Dan padamu aku berguru...
~di penghujung Ramadhan
Saturday, September 4, 2010
Ada Rindumu Di Ujung Jalan Itu
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang kau selipkan di sela dedaunan
Berharap angin menerbangkan
Hingga sampai ke hatinya
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang kau bisikan pada ilalang
Berharap mereka bergemerisik
Hingga mampir ke dengarnya
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang kau tuliskan di tiap sajak dan prosa
Berharap di suatu masa ia mengeja
Dan mengecup pesanmu
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang ingin kau antarkan ke peluknya
Biar ia rasa, apa yang kau rasa
Biar ia cinta, apa yang kau cinta
Akhirnya detik itu tiba
Telah kau bungkus rindumu
Bersama aroma embun pagi hari
Jangan ragu, melangkahlah
Karena,
ada rindunya di ujung jalan itu
Menanti rindumu
~untuk seorang kakak, 040910
Yang kau selipkan di sela dedaunan
Berharap angin menerbangkan
Hingga sampai ke hatinya
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang kau bisikan pada ilalang
Berharap mereka bergemerisik
Hingga mampir ke dengarnya
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang kau tuliskan di tiap sajak dan prosa
Berharap di suatu masa ia mengeja
Dan mengecup pesanmu
Ada rindumu di ujung jalan itu
Yang ingin kau antarkan ke peluknya
Biar ia rasa, apa yang kau rasa
Biar ia cinta, apa yang kau cinta
Akhirnya detik itu tiba
Telah kau bungkus rindumu
Bersama aroma embun pagi hari
Jangan ragu, melangkahlah
Karena,
ada rindunya di ujung jalan itu
Menanti rindumu
~untuk seorang kakak, 040910
Subscribe to:
Posts (Atom)