: Al Hurriyyah
Kau yang ingin kudengar
Lantunan panggilan syahdu
Berdentum di gendang telinga
Sampaikan pada getar bernama kalbu
Kau yang ingin kugenggam
Gemericik air lewat keran-keran di terik siang
Beserta senyum dan pelukan yang menjalar dalam
Tulus, merindu Tuhan
Kau yang ingin kulihat setiap hari
Kata-kata penyejuk kalbu
Dengan warna warni stabilo
Atau berita yang menghentak hati
Kau yang ingin kujejak
Dingin, bersih, kupikir tadinya telaga kautsar
Dan mungkin memang serupa
Ada bayangmu menjelma nyata
Kau yang kurindukan
Lingkaran persaudaraan
Di tiap lisan ada kekuatan
Di tiap jiwa ada kaitan
Ingin aku bersamamu
Berjajar dalam shaf
Berdiri rapat-rapat
Bersujud dalam-dalam
Mengeja doa
Kapan ku terakhir memelukmu,
Duhai Kemerdekaan yang Tak Pernah Terjajah?
Wednesday, November 10, 2010
Ode Ulat Kecil
Aku pernah berpikir
Aku ingin jadi kepompong saja
Menyendiri dalam sepi
Bercermin pada waktu, dan aibku
Mungkin itu lebih baik
Daripada lebah yang tak pernah hasilkan madu
Atau cecapung yang hanya hinggap di tangkai kayu
Berharap menjelma cantiknya kupu
Lalu menari bersama kepak kepikkepik mungil
Tapi yang kutak pernah tahu
Tak selamanya ulat dapat bersayap
Terkadang ia seputih lara...lalu mati begitu saja
Ah, Tuhan
Bolehkah aku meminta
Jadi ulat yang taat padaMu saja?
Aku ingin jadi kepompong saja
Menyendiri dalam sepi
Bercermin pada waktu, dan aibku
Mungkin itu lebih baik
Daripada lebah yang tak pernah hasilkan madu
Atau cecapung yang hanya hinggap di tangkai kayu
Berharap menjelma cantiknya kupu
Lalu menari bersama kepak kepikkepik mungil
Tapi yang kutak pernah tahu
Tak selamanya ulat dapat bersayap
Terkadang ia seputih lara...lalu mati begitu saja
Ah, Tuhan
Bolehkah aku meminta
Jadi ulat yang taat padaMu saja?
Friday, October 22, 2010
Kepada Kakak, yang Kesepian Malam Ini
Kak,
sepinya malammu ini
Tak adakah yang bisa kau ajak berbagi?
Meski hanya segenggam kata, meski hanya sekecup makna
Kak,
jika tak ada,
biarlah aku di sampingmu
Ini, oleholeh perjalanan jiwaku
Sekerlip bintang
untuk kunyalakan di matamu
Dan secahya bulan sabit
untuk kuukir jadi senyummu
Ah kakak,
bersabarlah...
Biar kutemani,
sampai teman hatimu menepi...
~for the one and only brother :)
sepinya malammu ini
Tak adakah yang bisa kau ajak berbagi?
Meski hanya segenggam kata, meski hanya sekecup makna
Kak,
jika tak ada,
biarlah aku di sampingmu
Ini, oleholeh perjalanan jiwaku
Sekerlip bintang
untuk kunyalakan di matamu
Dan secahya bulan sabit
untuk kuukir jadi senyummu
Ah kakak,
bersabarlah...
Biar kutemani,
sampai teman hatimu menepi...
~for the one and only brother :)
Tuesday, October 19, 2010
Diorama Layar Kaca
Ada diorama episode sampah
Di kotak hitam, di ujung ruang tamu
Terdengar ucap lantang-lantang :
"Itu rakyat kami yang bela!"
Apakah lara?
Kupikir takkan pernah dapat dirasa
Oleh hati yang gelap mata
Sadarkah, Tuan?
Luka kami sudah menganga
Kami repih perih ini
Yang tercecer,
terseret kesadisan janji-janji semu
Ada pusaran topan
Berjingkat perlahan, menggulung ceriamu
Sekerjap lantakkan tiap hipokrit
Tiba-tiba menjelma apologi
Muncul dari jiwa-jiwa yang sakit
Tak perlu kau dikte kami lagi, Tuan
Sebab kini kami pandai membaca
Sebab kini kami mahir berkata-kata
Bukankah kami, tlah berguru padamu begitu lama?
~dibuat untuk Arisan Kata ke-7 dengan 10 kata ajaib : diorama, sampah, sadis, topan, apologi, lara, dikte, jingkat, ceria, dan hipokrit :)
Di kotak hitam, di ujung ruang tamu
Terdengar ucap lantang-lantang :
"Itu rakyat kami yang bela!"
Apakah lara?
Kupikir takkan pernah dapat dirasa
Oleh hati yang gelap mata
Sadarkah, Tuan?
Luka kami sudah menganga
Kami repih perih ini
Yang tercecer,
terseret kesadisan janji-janji semu
Ada pusaran topan
Berjingkat perlahan, menggulung ceriamu
Sekerjap lantakkan tiap hipokrit
Tiba-tiba menjelma apologi
Muncul dari jiwa-jiwa yang sakit
Tak perlu kau dikte kami lagi, Tuan
Sebab kini kami pandai membaca
Sebab kini kami mahir berkata-kata
Bukankah kami, tlah berguru padamu begitu lama?
~dibuat untuk Arisan Kata ke-7 dengan 10 kata ajaib : diorama, sampah, sadis, topan, apologi, lara, dikte, jingkat, ceria, dan hipokrit :)
Saturday, October 16, 2010
Dari Aku, yang Mengagumimu
Para penjahit kata, selalu siapkan benang paling istimewa.
Agar makna tersulam rapi, dan tersampaikan pada hati.
Para pemintal bait, tak peduli ruam-ruam pahit.
Ia jadikan itu nyawa, menulis berlembar cerita tentang luka.
Lalu, apakah penenun puisi harus tetap terjaga?
Ada masanya di mana benang dan jarum harus disiapkan.
Agar cinta, tertenun tulus untuk disampaikan.
~special for #livepoetsociety fam :)
Agar makna tersulam rapi, dan tersampaikan pada hati.
Para pemintal bait, tak peduli ruam-ruam pahit.
Ia jadikan itu nyawa, menulis berlembar cerita tentang luka.
Lalu, apakah penenun puisi harus tetap terjaga?
Ada masanya di mana benang dan jarum harus disiapkan.
Agar cinta, tertenun tulus untuk disampaikan.
~special for #livepoetsociety fam :)
Wednesday, October 13, 2010
Ode Pucat Hati
Ada pekat menggeliat
di pucuk-pucuk dahan pintu kamarku.
Tanpa cahaya, dari tingkap-tingkap
yang bermuram durja.
Apalah kehangatan?
Sunyi, sedan, dan pahit ruam
telah kupaksakan,
untuk kuterima sepenuhnya,
untuk kunikmati seutuhnya.
Lihatlah pagi yang menggeriap.
Mendung telah menghapusnya,
dari juta daftar periang hati.
Mungkin ia telah malu-malu sembunyi.
Tak ingin basah oleh kisah,
tak ingin kalah oleh tumpah.
Biarlah, ia nikmati periuk nasi,
sampai senjanya sendiri.
Aku tertemani bulir,
menganak kali di ujung jari.
Mengerjap, dan jatuh lagi.
Apa pasal? Tak ada.
Hanya jiwaku yang kubiarkan rapuh.
Ditampar waktu yang tak jua
menyembuhkan pilu.
Dan tiba-tiba aku cemburu,
pada tawa dan senyuman.
Ragu menyesak di penuh tanda tanya : Akankah?
Biarlah, kan kuseret sendiri
koper-koper perih ini.
Kan kuhempas,
pada jurang terdalam,
pada waktu paling malam,
dan pada rindu paling kelam.
~saat membayangkan luka, semoga tak kurasakan
di pucuk-pucuk dahan pintu kamarku.
Tanpa cahaya, dari tingkap-tingkap
yang bermuram durja.
Apalah kehangatan?
Sunyi, sedan, dan pahit ruam
telah kupaksakan,
untuk kuterima sepenuhnya,
untuk kunikmati seutuhnya.
Lihatlah pagi yang menggeriap.
Mendung telah menghapusnya,
dari juta daftar periang hati.
Mungkin ia telah malu-malu sembunyi.
Tak ingin basah oleh kisah,
tak ingin kalah oleh tumpah.
Biarlah, ia nikmati periuk nasi,
sampai senjanya sendiri.
Aku tertemani bulir,
menganak kali di ujung jari.
Mengerjap, dan jatuh lagi.
Apa pasal? Tak ada.
Hanya jiwaku yang kubiarkan rapuh.
Ditampar waktu yang tak jua
menyembuhkan pilu.
Dan tiba-tiba aku cemburu,
pada tawa dan senyuman.
Ragu menyesak di penuh tanda tanya : Akankah?
Biarlah, kan kuseret sendiri
koper-koper perih ini.
Kan kuhempas,
pada jurang terdalam,
pada waktu paling malam,
dan pada rindu paling kelam.
~saat membayangkan luka, semoga tak kurasakan
Tuesday, October 12, 2010
Rindu Sahajamu, Kawan
Ada kenangan yang riuh berderai
di sudut rumahku, Kawan.
Mungkin ia sudah tak sabar
menanti panorama yang jua
pernah kita saksikan kala senja.
Tapi di ujung lembayung,
kusaksikan wajah murammu berbalut luka.
Seperti ada perih, melilit pahit.
Lalu perlahan cahaya matamu menggeriap pergi.
Lalu, apakah benar bit-bit data maya
tlah menjarakkan kita?
Membuat alpa pada cangkir-cangkir susu
penadah cengkrama di pagi kita.
Ah, aku hanya rindu satu:
sahajanya dirimu.
~dibuat dalam rangka Arisan Kata ke-6 dengan 10 kata ajaib : data, lembayung, sahaja, panorama, riuh, derai, geriap, muram, lilit, dan susu :)
di sudut rumahku, Kawan.
Mungkin ia sudah tak sabar
menanti panorama yang jua
pernah kita saksikan kala senja.
Tapi di ujung lembayung,
kusaksikan wajah murammu berbalut luka.
Seperti ada perih, melilit pahit.
Lalu perlahan cahaya matamu menggeriap pergi.
Lalu, apakah benar bit-bit data maya
tlah menjarakkan kita?
Membuat alpa pada cangkir-cangkir susu
penadah cengkrama di pagi kita.
Ah, aku hanya rindu satu:
sahajanya dirimu.
~dibuat dalam rangka Arisan Kata ke-6 dengan 10 kata ajaib : data, lembayung, sahaja, panorama, riuh, derai, geriap, muram, lilit, dan susu :)
Subscribe to:
Posts (Atom)