Thursday, August 16, 2012

Dua Puluh Tiga dan Perjalanan Itu

Saya punya cita-cita menikah di usia 23 tahun. Dan itu saya nyatakan pada ibu saya di akhir 2010 lalu. Berharap di 2011 saya sudah bisa berjodoh dengan seseorang yang Alloh Tuliskan di lauhul mahfudz, di usia saya yang ke-23.


Mengapa 23?

Sederhana saja. Ibu saya menikah di jelang usia itu dan sebagai anak sulung saya merasa memiliki ibu dengan jarak usia yang tidak begitu jauh itu menyenangkan. Saya seringkali menemukan beliau bukan hanya sebagai sosok seorang ibu, tapi juga seorang teman. Ditambah lagi, ibu saya masih berada di usia produktif di usia saya sekarang.

Sebenarnya, pikiran menikah sudah terlintas jelang lulus kuliah. Usia saya 21 saat itu. Tapi saya memiliki tanggung jawab membantu ibu untuk pendidikan adik-adik saya, minimal sampai adik pertama saya lulus dan juga membantu biaya pendidikan adik-adik setelahnya. Sudah menjadi tekad saya dan adik saya bahwa ibu seharusnya bisa menikmati usia akhir 40 tahunannya dengan nyaman...tanpa beban kami selaku anak-anak beliau.

Karenanya, menikah di waktu tepat setelah lulus menjadi kurang relevan buat saya. Apalagi secara pribadi saya pun merasa belum memiliki bekal yang cukup. Maka ketika teman-teman seangkatan satu per satu dipersatukan dengan pasangan jiwanya, saya santai saja. I have my own target, insyaAlloh.
Di akhir 2010 saya sudah mulai mewacanakan soal menikah kepada ibu. Persiapan menuju 2011, pikir saya. Di mana usia saya akan menginjak 23. Berharap bisa proses mulai dari awal tahun 2011, dan di akhir tahun sudah ada hasilnya. Tampak terlalu idealis memang...tapi maksud saya bukan begitu. Karena sebaik-baik kita berencana dan menentukan target, tentu Alloh Yang Maha Penentu, bukan? Saya hanya ingin berikhtiar sebaik mungkin, itu saja.

Saat itu ibu mengizinkan...meski entah kenapa saya merasa beliau meng-iya-kan dengan rasa yang kurang plong. Tapi entah karena saya yang terlalu bersemangat, saya tidak terlalu ambil pusing dengan rasa tersebut.

Sedari dulu, saya tak pernah berpikir menolak siapapun lelaki yang datang. Selama ia sholeh, pemahaman agamanya baik, akhlaknya baik, karakternya kuat dan ibu merestui, insyaAlloh alasan-alasan yang bukan prinsip rasanya bisa dipertimbangkan dengan bijak. Maka begitu kesempatan ada, saya memutuskan untuk maju.

Sekali lagi saya tahu, dari pengalaman teman-teman tak semua proses berjalan dengan mulus atau berhasil dalam sekali. Saya selalu bilang pada teman-teman, jika dalam sekali proses langsung Alloh pertemukan dengan sang jodoh, maka hal itu adalah sesuatu yang benar-benar patut disyukuri. Saya pun tak berpikir demikian, yang saya tahu saya harus berikhtiar sebaik-baiknya dalam menjemput jodoh.

Maka ketika proses pertama belum Alloh perkenankan untuk berjodoh, saya tersenyum saja. Mungkin menurut Alloh saya belum layak untuk laki-laki sebaik beliau. Maka ketika beliau yang memutuskan untuk tidak lanjut, ya tidak menjadi masalah. Semua akan menjadi pembelajaran untuk saya, itu yang saya yakin.

Proses kedua pun berjalan selang beberapa waktu setelah proses pertama. Namun kondisi keluarga, terutama keluarga besar, saat itu tidak stabil. Ibu saya pun mengungkapkan kejujuran hatinya bahwa beliau belum bisa memberikan izin dengan hati yang lapang jika saya ingin menikah tahun ini. Mungkin tahun depan, kata beliau.

Buat saya yang memegang prinsip berproses tidak ingin lebih dari 6 bulan, rasanya berat jika membiarkan proses ini berjalan tanpa kepastian waktu. Tidak ahsan dan nampaknya peluang mudharat-nya cukup besar. Karenanya proses kedua ini saya cukupkan. Saya bilang bahwa jika berjodoh pasti akan Alloh Persatukan bagaimanapun caranya. Saya tak ingin ditunggu, sebagaimana pula saya tak ingin menunggu. Biarlah Alloh yang akan Menunjukkan jalan. Saya berdoa semoga kami sama-sama dikaruniai jodoh yang terbaik menurut-Nya.

Maka medio hingga akhir tahun 2011 menjadi waktu "kosong" saya di mana saya memilih untuk menyibukkan diri dan tidak terlalu memikirkan perihal ini. Beberapa yang "datang" saya persilakan "menjemput" yang lain. Biarlah ini menjadi waktu di mana saya bisa menyiapkan diri dan keluarga dengan lebih baik lagi. Sempat terpikir juga, mungkin 23 menjadi tidak realistis lagi. Mungkin saya akan menikah di 24, 25, atau bahkan lebih dari itu. Who knows? Tapi saya harus husnudzon, mencoba menepis pikiran itu. Saya baru memasuki awal 23, masih ada banyak bulan lagi sebelum 24, iya kan? :)

Akhir 2011, tak disangka ternyata izin ibunda keluar. Dengan pembicaraan yang amat ringan dan lapang. Sungguh di luar dugaan saya. Ibu justru membesarkan hati dan menyemangati saya jika ingin berproses lagi. Ah subhanalloh... Meski saya merasa sedikit melepaskan beberapa peluang sebelumnya, tapi ini rasanya jauh melegakan dan membuat langkah saya ringan.

Maka saya bertekad segera menyerahkan proposal pada guru ngaji saya. Siapapun yang datang nanti, insyaAlloh saya menyiapkan diri. Pun jika yang datang adalah yang sebelum-sebelumnya. Saya ingin mengikhtiarkan sebaik-baiknya peluang jodoh yang datang setelah penguatan tekad ini. Bismillah...
Alhamdulillah, lelaki sederhana ini yang takdirnya menemui takdir saya di kesempatan pertama setelah restu ibunda hadir. Sholih, insyaAlloh. Banyak hal yang membuat saya minder terhadap beliau sebenarnya, kadang saya merasa tak pantas mendampinginya, hehe. Tapi subhanalloh, saya menemukan banyak sekali kesamaan yang kami punyai. Dari hal-hal prinsip semisal visi hidup, hingga hal-hal remeh yang belakangan saya ketahui, semisal merek dompet :). Lucu...sekaligus perlahan membuat saya yakin, he's the right one.

Sepanjang proses dengan beliau ini rasanya begitu ringan, alhamdulillah. Bukan tanpa hambatan dan ujian memang, tapi jika memang proses menuju pernikahan adalah perjuangan, itulah yang saya (kami) rasakan. Tapi kemudahan-kemudahan-Nya terasa menyertai. Mulai dari kebingungan soal budget, tanggal, rencana setelah menikah...ah tapi itulah indahnya...rizki dari Alloh datang tanpa diduga, subhanalloh.

Saya baru berani menyebut kami jodoh setelah akad terucap. Sebelumnya? Tak pernah berani. Apapun bisa terjadi. Semoga niat menjaga proses menjadi amalan di sisi-Nya. Aamiin.

Ya, saya sebenarnya tak menyangka bisa "bertemu" dengannya lagi. Tahun lalu kami pernah berselisih takdir, belum berjodoh saat itu rupanya. Tapi kami ternyata sama-sama yakin, kalau jodoh pasti di"pertemukan"-Nya kembali. Dan alhamdulillah, Alloh Mengizinkannya.

Satu hal, beliau bukan orang yang sempurna...saya tahu, sebagaimana saya juga. Tapi dia menyempurnakan saya, dengan keberaniannya mengucap perjanjian teguh itu...di hadapan-Nya.

Dua puluh tiga.

Doa itu dikabulkan-Nya dengan begitu istimewa.

Alhamdulillahirobbil'alamiin...


- mengenang perjalanan, 5 Feb '12 (ta'aruf), 6 Mei '12 (khitbah), 14 Juli '12 (akad) -

Bandung, 14.08.12
Happy first monthversary, Dear Hubby! :*