Sunday, September 13, 2009

Ada biru di hari ini
Disertai warna-warni pelangi
Serta senyuman yang menyejukkan
Bahwa kebaikan selalu ada
Di hati orang-orang yang menjaganya
Seperti cahaya
Yang siap dibagikan
Ke tengah kegelapan

Wednesday, September 9, 2009

Ya Alloh...
Kau sampaikan aku
Pada titik ini
Titik yang dulu sempat kukira tak mungkin kuraih
Karena keterbatasanku

Namun, bukankah kasih-Mu tak terbatas
Dan memang tak ada batasan bagi-Mu
Untuk membuat semuanya mungkin
Untuk membuat semuanya nyata

Rabb...
Sungguh tiada daya dan upaya
Melainkan karena pertolongan-Mu

09/09/09 >> already done :) alhamdulillah

Monday, August 31, 2009

Tak Akan Menyerah!

Sudah berkali-kali aku melewati

Rintangan silih berganti

Bahkan yang kukira ku tak mampu menghadapinya

Namun pertolongan-Nya telah membuatku

Sampai di titik ini


Maka begitupun saat ini :

Aku tak akan menyerah!

Akan kulakukan yang terbaik

Yang aku bisa

Dan menyerahkan hasil akhirnya pada-Nya

Keep Fight!

Wednesday, August 19, 2009

Kalau Boleh...

Kalau boleh,
aku ingin kembali menemuimu
dengan segenggam langkah
yang pernah kutapaki saat senja

Kalau boleh,
aku ingin kembali melihat senyummu
yang penuh dengan makna kepadaku
di sela gerimis sore itu

Kalau boleh,
ingin sekali aku mulai menyusun lagi kepingan itu
membentuk rupa yang lebih indah
dalam hamparan langit pagi hari bersamamu

Kalau boleh,
aku ingin kembali mengakrabimu
mengakrabi waktu-waktu pelangi
dan waktu saat kita bersama melukis langit

Izinkanlah Ya Rabb...

*) saat teringat akan sesuatu yang sudah lama terlupakan

Adikku Di Ujung Jalan Itu

Dek, masih kuingat senyummu saat fajar merekah,
menemani langkah-langkah kita menuju lapangan rektorat.
Tak kulupa riang wajahmu dan ringan langkahmu saat itu.
Kita akan melalui masa ospek ini!

Yang membuatku kaget adalah kau tiba-tiba mengeluh perutmu sakit.
Belum makan, katamu.
Kuserahkan roti seadanya. Dan kau melahapnya dengan bersemangat.
Lagi-lagi aku tersenyum melihat betapa jenakanya tingkahmu.

Dek, selama hari-hari ospek itu, terenyuh aku melihat kebersahajaanmu.
Tak pernah mengeluh dan selalu berusaha membantu dengan ketulusan.
Aku pun banyak belajar dari dirimu.

Setahun ini, hampir tak kudengar kabarmu.
Yang kutahu kau sakit dan cuti dari kuliahmu.
Yang bisa kueja hanya doa.

Namun beberapa hari lalu, aku terhenyak.
Mendengar kabar kau telah pergi dan takkan mungkin bisa kusapa lagi.
Secepat itukah?

Dek, bagaimanapun jua,
kuharap kau pergi ke sisi-Nya dengan satu makna : SYAHID
Seperti namamu...ANWAR SAHID...

Biru

Mom,
Pagi ini kudengar lagi suaramu.
Suara yang membuatku luluh
dan menekuri apa yang sedang kutunda saat ini.
Kebahagiaanmu kah yang kutunda?

Mom,
Sungguh ingin segera sabit itu
kuukir di wajahmu.
Dan melihat gemintang di matamu,
adalah impianku.
Tapi mengapa lubang besar itu
semakin menarikku dalam?

Mom,
Maafkan putrimu ini...
Maafkan...

Untuk Mamah

Mah,
Izinkan aku
Untuk tak berhenti
Menyalakan kerlip di matamu
Dan mengukir sabit di bibirmu...

-- Darmaga, 010409