Monday, November 7, 2011

Headlights




the world is sparkling now, but
say goodbye to this shining light
don't lose your way yet,
we will stand up
and now i'm living on...

the world is whispering,
covered in kindness,
"thank you"
because i heard your voice,
i'll stand up
and now i'm moving on...

- momaji

Tuesday, November 1, 2011

Berbeda yang Biasa



Tawaran itu datang lagi. Dan kali ini reaksi saya masih sama : hanya bisa tersenyum. Kaget? Pastinya. Tapi satu hal membuat saya kembali menguasai diri. Ini ujiannya. Dan ini yang harus saya hadapi. Melewatinya berkali-kali dengan hal yang berbeda pula membuat saya merasa lebih kuat kali ini.

Sungguh saya memahami. Ini kondisi berbeda tidak seperti yang orang-orang lain miliki. Dan saya hanya ingin tetap bersyukur untuk itu. Bersyukur masih diberikan-Nya kesempatan untuk terus bersiap dengan lebih baik, lebih paripurna. Bersyukur ditunjukkan-Nya secara nyata bahwa begitu banyak orang yang perhatian kepada saya, begitu banyak yang siap menggenggam saat akan terjatuh, begitu banyak yang siap memeluk saat butuh kehangatan. Alhamdulillah.

Apakah saya ragu? Hmm...selalu ada yang membisikan ragu. Tapi saat mengingat kembali Yang Utama yang harus diingat, hati saya kembali kuat. Mengapa harus ragu kepada sesuatu Yang Pasti?

Sudah saya bilang, beban ini kini bertambah. Saya harus kembali dengan bahu yang memperkuat dirinya. Dengan hati yang lebih siap menerima. Tangan yang harus lebih sering berdoa. Dan kaki yang tak pernah lelah melangkah. Tak perlu kecewa jika sudah terbaik berusaha. Tak perlu bersedih bila sudah sepenuh peluh bersungguh.

Saya hanya bertanya-tanya : Apakah ini sebuah kesalahan?

Semoga tidak. Dan semoga yang terbaik untuk orang-orang yang saya sayangi.

Saya sudah terbiasa menerima bahwa saya berbeda. Melihat yang lain merekahkan senyumnya, sedang saya hanya bisa memandang mereka dari kejauhan, itu sudah biasa. Sedari dulu bahkan. Ini hanya beda yang biasa lainnya. Dan pasti akan berakhir, dan membuat lebih kuat. Lebih berani.

Oiya, saya pun ikut bahagia melihat mereka. Sungguh.

Betapa baiknya nurani selalu mengingatkan saya untuk tidak berandai-andai, dan itu melegakan. Senyum malaikat bernama Bunda masih terasa, dan itu juga jauh membuat lebih melegakan. Pasti akan indah, pada akhirnya.

Terasa ya? Perjuangan itu. Subhanalloh...betapa dulu saya hanya menyimak, lalu terkadang memberi komentar yang tak jua membaikkan. Jadi merasa bersalah. Bahwa 'belum saatnya' itu terkadang menjadi sesuatu yang mudah diucapkan tapi terkadang begitu sulit diterima dan dipahami. Maafkan...

Lalu mengapa saya menulis ini? Sebagai penyembuh. Bukan dari sakit, tapi dari retak-retak kecil yang sepertinya butuh perekat lagi. Agar lebih tegar menghadapi. Agar lebih berani melangkahkan kaki.

Alloh, terima kasih...ini lebih dari cukup.

Sunday, October 30, 2011

Quote of The Day

"melihat buku-buku yang banyak membuat saya selalu senang karena bertanya-tanya; petualangan apa saja yang ada di dalamnya? apakah menginspirasi? apakah menggugah hati? apakah menyeramkan? apakah menghibur? tiap buku memiliki ceritanya dan jiwanya sendiri."
- akkadimana

Saturday, October 29, 2011

Daphne Odora



The white daphne odora that bloomed
on the sidewalk when I was younger
somehow has an adult scent
I really loved that white flower

In the park,
I played freely on the "revolving globe"
I got a little more cowardly since those times
so please protect me

I was watching the boat that was floating in a daze
which suddenly arrived in the ocean at night
Hey, don't laugh ok? Even those things make me
think happily of the younger me

I think that if we always share
things that we know with each other
even from now on
hey, would that be ok?

As always, the moments when I'm looking at your side
without being able to say anything
I think of the memories of a movie that I saw when I was young
& of the many small picture books that I've read

Even if we fight, I won't cry
but if I'm touched, I'll cry immediately
Even if they are just insignificant times in this universe,
I've come to live in this way

I got a little more cowardly since those times
so please protect me




*) a Matsu Takako song translation

Wednesday, October 26, 2011

Selamat Malam, Kamu

Selamat malam, Kamu.

Ya, Kamu. Dan ya, aku memang belum tidur.

Entah kenapa akhir-akhir ini jam tidurku menjadi semakin aneh. Dulu aku pikir insomnia hanyalah nama. Atau efek yang hanya akan dirasai oleh orang-orang di luar sana. Tapi kini, aku sendiri mengalaminya.

Padahal kalau dipikir, bagaimana bisa? Sedang tubuh ini seringkali terlalu lelah. Bahkan untuk sekadar memikirkan mimpi. Maka saat kasur empuk memanggil, bukankah itu saat terbaik untuk menyambut sapaannya? Hmm...tampak tidak untukku.

Kamu, apa kabar? Ya, aku memang sedang kebingungan...hingga kusadari mungkin hanya kamu yang bisa kusapa dan kutanyakan kabarnya. Baiklah, tak apa bila tak ingin menjawab. Mungkin itu sesungguhnya jawaban, bahwa kamu baik-baik saja.

Belakangan ini aku terlalu banyak bergaul dengan kalkulator dan telepon. Dan jariku seringkali terbalik-balik menekan angka dua menjadi delapan. Punggungku terikat di atas kursi berwarna hitam, sedang kepalaku menyiapkan diri menerima benda putih dalam wadah biru.

Tapi tahukah, Kamu? Bahwa selalu saja ada seseorang yang menenangkan. Mengingatkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya pada akhirnya. Dan dia sedikitnya bisa membuat bibirku bergerak sedikit ke kiri-kanan. Bukankah itu juga adalah keajaiban?

Pertanyaan-pertanyaan ini masih menggantung di kepalaku. Dan jawabannya masih bersembunyi dan belum mau menampakkan diri. Biarlah, aku akan bersabar. Bersabar dengan berjuang. Karena berjuang jua adalah kesabaran. Begitu kan, katamu?

Aku pernah bilang pada waktu, agar dia berhenti sebentar saja. Aku ingin menghela napas sejenak...lalu membiarkan tawaku mengelana. Tapi Kamu, dia tak pernah menurutiku. Dia berlari...terus berlari...dan aku tertatih menyejajarinya. Ah, apa? Seperti ucapan berwaktu lalu? Ya memang, karena aku masih saja berpijak di batu yang sama.

Kamu, bila suatu saat nanti ingin mengulurkan tangan, maka bersiaplah untuk menggenggamku erat. Karena aku begitu ceroboh, dan seringkali tersandung kerikil hari. Bila tak hati-hati mungkin kamu akan mencelakakan diri sendiri.

Dan bila tidak, Kamu, maka aku dengan senang hati akan tetap bercerita dengan cara yang sama. Pada wujud maya yang selalu nyata.

Ah, terima kasih. Telah begitu baik menemaniku malam ini. Selamat malam :')

Monday, October 24, 2011

Berlari Sendiri


Perjalanan ini berlari di atas kaki kita sendiri,
menghitung jejak dengan iringan detik di arloji senja.
Ada yang kau nanti saat berdiri,
atau mungkin saat melipat kakimu lagi dengan sengaja.

Camar kembali pulang,
dan kepaknya membuat hatiku berdentang
...untuk ke sekian kalinya.
Karena ia ingatkan aku pada dirimu,
yang pada akhirnya takkan lagi membuatku gamang.

"Aku ingin seperti nelayan...", katamu suatu pagi.
"Berlayar, melempar sauh, dan kelak...menjaring matahari."

Dan aku hanya bisa tersenyum, 
lalu ikut memeluk mimpimu.

Ini pepasir yang butirannya merayuku.
Ingin aku tulis namamu,
tapi pada akhirnya aku tak pernah mau.
Sebab ombak akan menghapusnya lagi.
Maka kubiarkan rinduku menggenang,
di sepanjang pantai aku kan mengenang.

Suatu hari nanti aku ingin kau berjanji,
...kau takkan pernah biarkan aku berlari sendiri lagi.





Lepas Pangandaran,
231011

Wednesday, October 12, 2011

A Journey Back Into Love



This is a journey back into love
I was hearing someone whisper in my ear,
"Welcome home, Dear."